Cerpen " Janji Si Keriting "


“JANJI SI KERITING”
Matahari terlihat mulai berwarna kemerahan di ufuk barat, itu menunjukkan waktu mulai sore dan petang sebentar lagi datang. Akan tetapi, masih terlihat beberapa anak perempuan di teras sebuah rumah bercat hijau masih asyik memainkan barbienya yang terlihat cantik-cantik dengan berbagai bentuk baju yang menghiasi boneka itu.
“Gina, mana sepatu sama tas barbieku yang warna pink?” tanya Lala yang rambutnya keriting.
“Mana aku tahu, La, tadi kan kamu yang nyimpan.” jawab Gina yang berbadan gemuk sambil asyik menyisir rambut barbie yang panjang.
“Tuh, ada di bawah keranjang, La.” sahut Nita yang tinggi kurus yang dari tadi terlihat memainkan rumah barbie yang bagus seperti rumah sungguhan.
Dari arah pintu, keluar seorang ibu lalu mendekati Gina, Lala, dan Nita. Dengan lembut Ibu berkata, ”Anak-anak, ayo mainannya udahan sebentar lagi maghrib nanti Gina, Nita dicari ibunya, besok kan masih ada waktu dan kalian bisa main lagi”
“Ah Ibu, bentar lagi, belum adzan ini,” kata Lala sambil cemberut.
“Sayang, kamu juga belum mandi lagipula besok kan ada ulangan matematika,kamu harus belajar, kalau nggak belajar nanti nggak bisa mengerjakan,” jawab Ibu sambil merapikan dan memasukkannya semua mainan ke dalam keranjang yang besar tempat mainannya.
“Ya udah, kita pulang dulu ya, La,” kata Gina dan Nita kompak lalu meninggalkan rumah Lala.
Setelah mandi dan makan malam, Ibu menyuruh Lala untuk belajar karena besok ada ulangan sedangkan Ayah Lala mengajak adiknya untuk belajar membaca, adik Lala laki-laki dan masih TK, tahun depan dia akan masuk SD sedangkan Lala kelas 4 SD.
“Lala, mana buku matematikanya, ayo Ibu ajarin, “ kata Ibu Lala sambil mencari-cari buku. Setelah bukunya ketemu , Ibu membuka buku tersebut.
“Besok ulangannya tentang ukuran berat dan panjang, Ibu buatkan soal, nanti kamu yang jawab, kalau nggak tahu nanti Ibu jelaskan. Lala, kenapa tidur, ayo belajar dulu,” kata Ibu dengan agak kesal karena Lala ternyata diam saja dan menaruh kepalanya di atas meja, rupanya Lala sudah mengantuk.
Sambil menegakkan kepala lala menyahut, ”Besok saja Bu, Lala dah ngantuk.”
Lala kemudian jalan ke kamarnya, Ibunya hanya memandangi anak sulung perempuannya yang berambut kering itu dengan perasaan kecewa.
Pelajaran pertama di sekolah Lala adalah matematika dan saatnya ulangan seperti yang pernah dijanjikan Ibu Guru. Semua siswa diam serta merasa deg-degan takut tidak bisa mengerjakan karena kalau ulangan sampai mendapat nilai jelek, harus memperbaiki lagi dan ditanda tangani orang tua.
“Din, kasih tahu nanti ya, aku gak belajar.“ bisik Lala sama Dina teman sebangkunya.
“Ah Lala, kebiasaan kamu, nggak ah, nanti Bu guru marah,”jawab Dina pelan.
“Semua mengerjakan sendiri, tidak ada yang menanyakan jawaban ke teman,“ tegas Bu Guru membuat Lala terdiam.
Jam pelajaran matematika usai, semua siswa mengumpulkan jawaban ulangannya namun Lala terlihat cemberut sambil mengaruk-ngaruk kepalanya yang berambut keriting itu. Sebagian siswa ceria karena bisa mengerjakan tetapi ada juga yang sedih karena merasa sulit termasuk Lala.
Tiga hari kemudian tepatnya hari Jumat ada pelajaran matematika dan ini berarti hasil ulangan akan dibagikan oleh Ibu Guru. Semua siswa was-was menanti hasil ulangannya.
“Anak-anak, Ibu akan membagikan ulangan kalian kemarin dan akan ibu bagikan sesuai perolehan nilai dari yang tertinggi, “kata Ibu Guru berdiri di depan kelas.
“Pasti tertinggi “Si Keriting” ya, Bu?, “sahut Riski anak yang terkenal bandel meledek Lala.
“Uuuh…,”anak-anak pun tertawa. Lala tampak tertunduk,dia memang sering diledekin sama teman-temannya terutama si Riski.
“Sudah, jangan ribut dan kamu Riski tidak boleh begitu sama teman, “ kata Ibu Guru sambil membagikan hasil ulangan. “Dina, Wulan, Andi, Indri, Ratih, Susan,Rudi, …. Dan terakhir Lala.”
“Lala, nanti jam istirahat ke kantor ya, Ibu tunggu,”kata Bu Guru pada Lala.
Lala tampak sedih lalu menjawab,”Iya Bu.”
Bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas dengan ribut, ada yang mau mainan, ada yang jajan, ada pula yang cuma duduk sambil ngobrol karena mungkin malas jajan atau mungkin tidak bawa uang jajan seperti Lia dan Indah yang kebetulan kerja bapaknya menarik becak.
Lala berjalan agak lemas menuju ke kantor untuk menemui Bu Susi guru matematika dan juga wali kelasnya dengan rasa takut karena Ia yakin Bu Susi akan marah lagi karena nilainya jelek. Lala mengetuk pintu dengan pelan dan melangkah masuk menuju Bu Susi yang sudah menunggu. Guru-guru yang lain terlihat asyik ngobrol di ruangan itu dan sesekali terdengar tertawa.
“Duduk La,” kata Bu guru pelan.
“Iya Bu,“ jawab Lala sambil duduk dengan pelan dan hati deg-degan serta wajah tertunduk.
“Lala, “kata Ibu memulai pembicaraan. “Ibu amati kamu tidak ada perubahan, dulu Ibu pernah juga bicara dengan Ibumu tentang nilai-nilai Lala yang sering jelek, kata Ibumu di rumah kamu seringnya bermain saja, malas belajar, dan suka membantah kalau dinasehati orang tua, betul La?,“ lanjut Ibu Susi panjang lebar dan sesekali dia membetulkan letak kaca matanya.
“I…iya,Bu, “jawab Lala terbata-bata dan matanya mulai memerah yang akhirnya ada air yang mulai menetes dari kelopak matanya. Ada rasa menyesal di hatinya apalagi kalau dia teringat bila disuruh belajar selalu melawan dan akibatnya dia selalu dijuluki “Si Keriting” karena nilainya sering jelek.
Sepulang sekolah, Lala langsung ke rumah dan tiba-tiba memeluk ibunya yang sedang menyuapi adiknya di teras rumah.
“Maafkan Lala, Bu, “kata Lala sambil menangis dan memeluk ibunya.
“Ada apa Lala, pulang sekolah kok langsung nangis, nilainya jelek lagi? “tanya Ibu sambil menaruh piringnya dan adiknya terlihat bengong.
“Lala janji Bu, akan rajin belajar, nurut sama Ibu, nggak bandel lagi, nggak akan mainan seharian dan Lala akan buktikan sama teman-teman kalau “Si Keriting” juga pintar.”“Ya, semoga Lala sekarang mau berubah, Ibu senang sekali, Ayahpun pasti bangga, adik juga,” jawab Ibu sambil membelai rambut Lala yang memang keriting dan lucu.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Cerpen

Materi : Nilai-nilai kehidupan pada cerpen

Menjadi Guru yang Menyenangkan