contoh cerpen

“ HPKU SAYANG, AKU JADI MALANG ”
Malam telah turun, seperti biasa di keluarga Pak Umar seusai sholat maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan makan malam bersama, mereka berkumpul di ruang tengah. “Ayo semua belajar, jangan lupa PR dikerjakan, Ibu mau cuci piring,” Kata Ibu sambil berjalan ke meja makan . Aditia, anak sulung mereka bergegas masuk ke kamar lalu diikuti oleh Gilang sang adik. Mereka dua saudara anak Pak Umar. Aditia duduk di kelas 8 SMP sedangkan Gilang baru duduk kelas 4 SD. Beberapa saat suasana sepi hanya suara percik air dan benturan gelas,piring,sendok sesekali terdengar dari arah dapur. Pak Umar juga sedang sibuk menyelesaikan tugas dari kantor. “Kak….gantian dong, Gilang kan pengin juga,” teriak Gilang mengejutkan Pak Umar dan Istrinya. “Ada apa sih kalian?” Tanya Pak Umar sambil terus menyelesaikan pekerjaannya. “Ga ada apa-apa, Yah,” Jawab Aditia dari dalam Kamar. Di dalam kamar terlihat Aditia sedang berebut hp dengan Gilang. “Tuh, gara-gara kamu hampir Ayah marah,” kata Aditia sambil memelototi adiknya “Kakak juga pelit, aku kan pengin main gamenya juga,” sahut Gilang tidak mau kalah. “Kamu belajar dulu,” perintah Aditia sambil mendorong tubuh adiknya. “Ah, kakak juga belum,” jawab Gilang mencoba menarik HP yang dipegang kakaknya. “Astagfirullah…., kalian bukannya belajar malahan game lagi, harus berapa kali Ibu ingatkan,” suara Ibu yang tiba-tiba muncul di kamar mengejutkan mereka. “Bu…., ambil saja hpnya dan jangan pernah dipegangin hp akhirnya jadi disalahgunakan,” kata Ayah dengan keras dari ruang kerjanya. “Sekarang kalian belajar kalau kalian tidak ingin Ayah makin marah dan menambah hukuman, Ibu tungguin di sini,” kata Ibu sambil mengambil hp dan duduk di sisi ranjang menunggui mereka belajar. Pagi hari yang cerah menyapa seluruh isi bumi, semua mahluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan YME memulai melakukan aktifitasnya. Dari ayam yang berkokok menyambut matahari, udara pagi yang segar menyapa pepohonan, kabut pagi yang berlari menghindari matahari, sampai dengan manusia yang sibuk mempersiapkan kebutuhan hidupnya. Di dapur, Bu Umar menyiapkan sarapan paginya dengan spesial rasa cinta untuk keluarganya. Setelah semuanya beres merekapun segera sarapan pagi bersama. “Bu…, hp Adit mana?” rengek Adita kepada Ibunya. “Jangan kasih Bu, nanti disalahgunakan lagi di sekolah,”sahut Pak umar sambil menikmati nasi goreng kesukaanya. “Yah…, Adit janji ga buat mainan, nanti kalau ga ada hp gimana kalau Adit ada perlu atau tiba-tiba pulangnya telat, di sekolah ga ada wartel,” kilah Adit “Ya udah, Ibu kasih tapi jangan disalahgunakan,”jawab Ibu tidak tega. “Makasih Yah, Bu .” Setelah sarapan selesai Pak Umar, Aditia, Gilang berangkat bersama. Ibu Umarpun kembali bergelut dengan pekerjaan rumah yang tidak pernah ada habisnya. Di salah satu SMP Negeri yang cukup favorit di kotanya, Aditia bersekolah. Aditia termasuk anak yang cukup pintar di kelasnya yaitu di kelas 8 F walaupun dia bukanlah juara I ketika di semester I. Memasuki pertengahan semester II prestasi Aditia mulai menurun, tidak lagi aktif di kelas. Pagi itu pelajaran pertama di kelas Aditia adalah Bahasa Indonesia. Seperti biasanya pelajaran diawali dengan menanyakan tugas yang diberikan pada pertemuan yang lalu. “Tugas laporan perjalanannya kumpulkan,” Perintah Bu Wida mengawali pelajaran. “Bu, tugas kurang 3 anak, Dendy sakit, Irma izin, Aditia belum mengumpulkan,” lapor Nanda selaku KM “Adit, mengapa tugasnya belum dikumpulkan?” Tanya Bu Wida “Belum mengerjakan Bu,” jawab Aditia menunduk dengan hati dag dig dug sebab dia sudah tahu persis kalau Bu Wida tidak akan pernah diam bila ada siswanya yang tidak mengerjakan tugas. “Memangnya belajar tidak semalam,” tanyanya sambil menatap Aditia yang semakin tertunduk. “Belajar Bu tapi lupa.” “Ok, nanti istirahat buat laporannya rangkap dua, Ibu tunggu secepatnya.” “Iya Bu….,” jawabnya dengan hati yang mengkal sebab dia yakin waktu jajannya akan hilang karena istirahat harus menjalani sanksi yang diberikan oleh gurunya. Pelajaran pagi itu dilanjutkan kembali. Bu Wida menerangkan materi tentang macam-macam surat berdasarkan sifatnya dan bagian-bagian dari surat. Ketika menjelaskan materi di board mata sang guru melihat ada yang ganjil dengan Aditia. Wajah Aditia selalu melihat ke bawah tidak seperti teman-temannya yang melihat ke depan, tangan Aditia pun selalu di bawah meja. Sambil menerangkan Bu Wida berjalan ke arah Aditia. “Apa yang kamu pegang Adit?” bentak Bu guru mengejutkan anak-anak sekelas, lebih-lebih Aditia yang serasa mau lepas jantungnya. “Ti…tidak ada apa-apa Bu,” jawabnya terbata-bata dengan muka yang merah serasa terbakar. “Jangan bohong…,” sahut Bu Wida sambil mengambil hp yang sedang dipegang Adit, ”Baru tadi diberi sanksi kerena tidak mengerjakan tugas, sekarang guru menerangkan kamu sibuk chatting, sekarang hp Ibu ambil dan besok Ibu mau bertemu dengan orang tuamu,” lanjut Bu Wida dengan kesal. Serasa mendengar petir di siang bolong ketika Aditia menjelaskan kepada Ayah, Ibunya bahwa ada panggilan dari sekolah. Betapa tidak, semalam ribut gara-gara hp, tidak mengerjakan tugas gara-gara sibuk mainan hp, ada panggilan dari sekolah juga gara-gara hp. Tampak penyelasan yang besar di wajah sang Ibu yang telah mengizinkan anaknya membawa hp, Pak Umar diam tapi matanya menatap tajam kepada Adit sebagai wujud kemarahan yang tertahan sementara Aditia menunduk dan ada titik-titik bening keluar dari kedua bola matanya seolah tanda penyesalan karena sudah ingkar janji dan tidak bisa memegang kepercayaan yang diberikan kedua orangtuanya. “Maafkan Adit Yah, Bu…., Adit ga bisa memegang kepercayaan yang diberikan Ayah sama Ibu,“ Aditia menghiba kepada kedua orangtuanya sambil menangis menyesal. “Baik, Ayah sama Ibu mau maafkan tapi sampai kenaikan kelas kamu tidak boleh pegang hp ,” jawab Pak Umar dengan tegas. “Iya Yah,” Aditia menjawab dengan lemas karena berarti dia tidak lagi bisa main game, smsan, facebook, chatting, friendster dan fasilitas-fasilitas lainnya dari hp benda kesayangannya yang setiap saat menemaninya tapi sekaligus menghancurkannya. Hancur kepercayaan orangtuanya karena telah ingkar janji, hancur nilai-nilai sekolahnya. Dalam hati Aditia berjanji akan memperbaiki diri. “Hpku… sampai ketemu di kelas 9 dan akupun tak mau lagi diperdaya olehmu,” ucapnya di hati.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Cerpen

Materi : Nilai-nilai kehidupan pada cerpen

Menjadi Guru yang Menyenangkan